Stratifikasi Sosial: Pengertian, Bentuk, Jenis dan Faktornya

Selembar.com – Kata Stratifikasi sosial berasal dari bahasa Inggris social stratification. Yang dalam bahasa Indonesia sering disebut pula dengan istilah pelapisan sosial. Stratifikasi berasal dari kata stratum (bentuk jamak nya strata) yang berarti tingkatan dan sosial berasal dari kata socius yang berarti masyarakat. Jadi, stratifikasi sosial berarti pembedaan masyarakat ke dalam kelas kelas secara bertingkat yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Dasar stratifikasi sosial adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, serta tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat. Penyebab terjadinya stratifikasi sosial adalah karena adanya sesuatu yang dihargai oleh masyarakat.

Stratifikasi Sosial: Pengertian, Bentuk, Jenis dan Faktornya

Proses Terjadinya Stratifikasi Sosial

Proses terjadinya stratifikasi sosial ada dua, yaitu:

1. Stratifikasi sosial yang terjadi secara tidak disengaja atau dengan sendirinya. Stratifikasi sosial ini ditandai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Terbentuk sejalan dengan perubahan dalam masyarakat.
  • Terbentuk di luar kontrol masyarakat.
  • Berdasarkan sistem masyarakat yang bersangkutan.
  • Terbentuk karena perbedaan kedudukan seseorang dalam masyarakat.
  • Dapat terbentuk karena alasan kepandaian umur, jenis kelamin, atau keturunan.

2. Stratifikasi sosial yang terjadi secara sengaja yang disusun untuk mencapai tujuan bersama. Biasanya dilakukan dalam pembagian kekuasaan dan wewenang pada lembaga-lembaga formal.

Baca juga: Diferensiasi Sosial : Pengertian, Jenis, Ciri-Ciri dan Bentuknya

Sifat Sistem Stratifikasi Sosial

Sifat sistem stratifikasi sosial sebagai berikut:

1. Sistem stratifikasi sosial bersifat tertutup, yang tidak memungkinkan perpindahan seseorang dari lapisan yang telah didudukinya ke dalam lapisan lainnya. Sistem ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Keanggotaan diperoleh karena warisan atau keturunan.
  • Keanggotaan berlaku seumur hidup, kecuali jika ia dikeluarkan dari kastanya.
  • Perkawinan bersifat endogen, artinya harus dengan orang yang berkasta sama.
  • Hubungan dengan kelompok-kelompok sosial lain bersifat terbatas.
  • Diikat oleh kewajiban-kewajiban dan norma yang telah ditetapkan secara tradisional.
  • Benar-benar memperhatikan prestise suatu kasta.

2. Sistem stratifikasi sosial bersifat terbuka, yang memungkinkan seseorang untuk masuk dan keluar dari suatu lapisan dan memiliki kelemahan, yaitu anggota-anggotanya bisa memiliki kekhawatiran bergeser ke lapisan yang lebih rendah.

Faktor yang Mendorong Stratifikasi Sosial

Beberapa kondisi umum yang mendorong terjadinya stratifikasi sosial sebagai berikut.

  1. Memiliki perbedaan ras dan kebudayaan, yaitu adanya perbedaan warna kulit dan latar belakang budaya dapat menciptakan stratifikasi suatu kelompok terhadap kelompok lainnya.
  2. Adanya pembagian tugas yang bersifat spesialisasi.
  3. Adanya kelangkaan, yaitu adanya alokasi hak dan kekuasaan yang langka atau jarang.

Fungsi Stratifikasi Sosial

Beberapa fungsi stratifikasi sosial sebagai berikut:

  • Merupakan alat masyarakat untuk mencapai tujuannya dengan jalan mendistribusikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban.
  • Menyusun, mengatur, dan mengawasi hubungan antar anggota masyarakat.
  • Mempunyai fungsi pemersatu dengan mengordinasikan unit-unit yang ada dalam struktur sosial.
  • Mengategorikan individu-individu ke dalam kelas yang berbeda.

Bentuk-Bentuk Stratifikasi Sosial

Ada dua bentuk stratifikasi sosial, yaitu:

1. Sistem kasta, yang menurut Lumberg (1968) berarti suatu kategori di mana para anggotanya ditunjuk dan ditetapkan pada status yang permanen dalam hierarki sosial yang diberikan, serta hubungan hubungannya dibatasi sesuai dengan statusnya. Sistem ini memiliki ciri-ciri, sebagai berikut:

  • Penghormatan anggota kasta yang lebih rendah kepada anggota kasta yang lebih tinggi.
  • Penekanan inferioritas kepada anggota kasta yang lebih rendah
  • Kurangnya kesempatan bagi anggota kasta yang lebih rendah.
  • Pria dari kasta yang lebih tinggi dapat menikah dengan perempuan dari kasta yang lebih rendah, tetapi pria dari kasta yang lebih rendah hanya dapat menikah dengan perempuan yang sekasta dengannya atau lebih rendah kastanya.

2. Sistem kelas yang memungkinkan mobilitas atau gerak sosial. Menurut Rogers (1960) kelas sosial merupakan suatu kategori yang abstrak dari orang-orang yang tersusun dalam tingkatan-tingkatan yang sesuai dengan status sosialnya. Adapun menurut Woods (1966), kelas sosial terdiri atas sejumlah orang yang mengambil bagian dalam status yang sama yang diperoleh sejak lahir atau karena sebab lainnya.

Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial

1. Stratifikasi Sosial Menurut Kriteria Ekonomi.

Pengelompokan masyarakat menurut kriteria kekayaan yang berkaitan erat dengan pendapatan yang diperoleh seseorang. Semakin besar pendapatan yang diperoleh seseorang, semakin tinggi pula kedudukannya di masyarakat. Karl Marx membedakan masyarakat dalam dua kelas, yaitu kelas atas yang memiliki kekuasaan atas tanah atau alat-alat produksi dan kelas bawah yang tidak memiliki tanah atau alat-alat produksi sehingga menyumbangkan tenaganya dalam proses produksi. Adapun Max Weber membedakan dasar-dasar ekonomis dengan dasar kedudukan sosial. Pada pembedaan berdasarkan ekonomis dibagi lagi pada subkelas-subkelas. Berdasarkan kelas-kelas sosial tersebut, masyarakat dapat dibedakan sebagai berikut:

  1. Kelas atas yang ditandai kekayaan, penghasilan yang tinggi, kehidupan keluarga yang baik, serta pendidikan yang tinggi
  2. Kelas menengah yang diduduki oleh para profesional dan memiliki partisipasi tinggi dalam masyarakat.
  3. Kelas bawah yang ditandai penghasilan yang rendah, keadaan yang miskin, mata pencarian yang tidak tetap. serta pendidikan yang rendah.

Di Indonesia, patokan yang dipakai adalah tingkat kesejahteraan keluarga, misalnya sebagai berikut:

  • Keluarga Prasejahtera dan Keluarga Sejahtera I, yaitu keluarga miskin atau berada pada lapisan bawah.
  • Keluarga Sejahtera II.
  • Keluarga Sejahtera II, yaitu keluarga sejahtera atau lapisan menengah.
  • Keluarga Sejahtera III dan Keluarga Sejahtera III plus, yaitu keluarga kaya dan makmur atau lapisan atas.

2. Stratifikasi Sosial Menurut Kriteria Sosial

Timbul karena perbedaan status sosial dan penghormatan yang ditunjukkan oleh anggota masyarakat. Hal ini berarti semakin tinggi status sosial yang dimiliki seseorang sehingga semakin tinggi penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Karena itu, semakin tinggi pula kedudukannya di masyarakat. Stratifikasi sosial dengan kriteria sosial dapat berupa stratifikasi di bidang pendidikan, yaitu:

  • Pendidikan sangat tinggi (profesor, doktor);
  • Pendidikan tinggi (sarjana, mahasiswa):
  • Pendidikan menengah (SMP dan SMA/SMK);
  • Pendidikan rendah (SD);
  • Tidak berpendidikan.
Baca juga: Mobilitas Sosial: Pengertian, Jenis, Faktor dan Pengaruhnya

Selain di bidang pendidikan, stratifikasi sosial menurut kriteria sosial bisa di bidang pekerjaan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Astrid S. Susanto, yaitu

  • Elit: orang-orang kaya dan orang-orang yang menempati kedudukan atau pekerjaan yang oleh masyarakat sangat dihargai.
  • Profesional: orang-orang yang berijazah serta bergelar dan dari dunia perdagangan yang berhasil.
  • Semi profesional: pegawai kantor, pedagang, teknisi berpendidikan menengah, dan mereka yang tidak berhasil mencapai gelar.
  • Tenaga terampil: orang-orang yang mempunyai keterampilan mekanik-teknik, pekerja pabrik yang terampil, dan pemangkas rambut.
  • Tenaga semi terampil: pekerja pabrik tanpa keterampilan, pengemudi, dan pelayan restoran.
  • Tenaga tidak terampil dan tidak terdidik, pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan penyapu jalan.

3. Stratifikasi sosial Menurut Kriteria Politik

Stratifikasi sosial ini mengelompokkan masyarakat berdasarkan kekuasaan dan wewenang. Kekuasaan berarti kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Apabila kemampuan ini diterima, orang tersebut akan memiliki wewenang. Hal ini berarti semakin berkuasa dan berwenang seseorang, semakin tinggi lapisan sosial yang ditempatinya, dan gejala yang tampak adalah ada penguasa dan ada yang dikuasai.

Berikut merupakan pola kekuasaan menurut Robert Mac Iver:

a. Tipe Kasta, Yaitu sistem pelapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisah yang tegas dan kaku. Garis-garis pemisah tersebut tidak mungkin dapat di tembus.

b. Tipe Oligarkis, Yaitu sistem pelapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisah yang jelas. Dasar perbedaan tipe ini berdasarkan kebudayaan masyarakat. Kedudukannya berdasarkan aspek kelahiran, tetapi masih memungkinkan untuk naik ke lapisan atas.

c. Tipe Demokratis, Yaitu sistem pelapisan dengan garis pemisah diantara lapisan-lapisan yang bergerak. Tipe ini berdasarkan pada prestasi dan keberuntungan.

Baca juga: Pengertian Modernisasi dan Ciri-Cirinya

Nah itulah penjelasan mengenai Stratifikasi Sosial seperti Pengertian, Bentuk, Jenis dan Faktor yang mendorong stratifikasi sosial. Semoga apa yang sudah di uraikan diatas bisa bermanfaat.

Leave a Reply