Masyarakat Majemuk : Pengertian Dan Unsur Kemajemukan Masyarakat

Pengertian Masyarakat Majemuk – Masyarakat Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai masyarakat yang bersifat majemuk. Hal itu dengan mudah dapat diketahui dalam semboyan negara Republik Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” artinya “Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan itu secara umum mengandung arti meskipun masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa tetapi tetap merupakan satu kesatuan Republik Indonesia.

Di balik semboyan itu sebenarnya terdapat suatu pesan bahwa masyarakat Indonesia menghadapi masalah persatuan dan kesatuan di dalamnya. Di dalamnya terdapat beraneka ragam perbedaan suku bangsa, agama daerah. dan etnis. Perbedaan itu seringkali berpengaruh pada perbedaan sistem kepercayaan, sistem nilai pandangan hidup dan perilaku sosial sehingga cenderung menimbulkan konflik atau perpecahan sosial di dalamnya.

pengertian masyarakat majemuk

Pengertian Masyarakat Majemuk

Apakah Pengertian Masyarakat Majemuk itu?. Masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai macam karakteristik kebudayaan baik perbedaan dalam bidang etnis, golongan, agama, tingkat sosial yang tinggal dalam suatu komunitas tertentu. Kenyataan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok suku, agama daerah ras yang beraneka ragam merupakan ciri khas masyarakat Indonesia. Masyarakat yang memiliki ciri-ciri seperti itu disebut Masyarakat Majemuk. Konsep masyarakat majemuk ini sangat penting untuk memahami karakter dan dinamika masyarakat Indonesia.

Istilah masyarakat majemuk pertama kali diperkenalkan oleh JS Furnivall (1967) untuk menggambarkan kenyataan masyarakat Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam ras dan etnik sehingga sulit bersatu dalam satu kesatuan sosial politik. Di dalam masyarakat majemuk terdapat perbedaan-perbedaan suku bangsa, bahasa, ras, kasta, agama, kedaerahan tradisi budaya dan adat istiadat. Perbedaan-perbedaan itu mempengaruhi kestabilan masyarakat sebagai suatu negara berbangsa.

JS Furnivall pada saat itu pendapat kemajemukan masyarakat Indonesia itu dengan adanya komunitas orang kulit putih Belanda, kulit putih keturunan india, dan pribumi. Jadi, yang berbeda-beda bukan hanya soal warna kulit, tetapi juga suku bangsa, agama, dan budayanya sehingga sulit terintegrasi dalam satu kesatuan sosial.

Unsur Kemajemukan Masyarakat

Elemen-elemen atau unsur yang penting dan paling menonjol peranannya dalam mempengaruhi dinamika masyarakat majemuk adalah perbedaan anggota masyarakat atas dasar ras dan etnisitas. Keanekaragaman kultural dan kelompok sosial di masyarakat majemuk pada umumnya bersumber dari adanya perbedaan dalam dua hal, yaitu ras dan etnisitas. Perbedaan ras dan etnisitas merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk pluralitas sosial budaya masyarakat majemuk. Karena itu, masyarakat majemuk sering pula disebut masyarakat multiras atau multietnik. Elemen-elemen penting yang paling besar pengaruhnya pada dinamika masyarakat majemuk adalah perbedaan ras dan etnisitas. Perbedaan ras dan etnisitas itu akan diuraikan lebih lanjut berikut ini.

1. Perbedaan Ras

Menurut Robertson (1977). Ras merupakan pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri warna kulit dan fisik tubuh tertentu yang diturunkan secara turun-temurun. Mereka itu berbeda-beda secara fisik karena merupakan hasil dari interaksi mereka dengan lingkungan hidup khusus mereka. Namun, di dalam pengertian ras ini yang penting bukan bagaimana sifat fisik tubuh tertentu yang diperoleh secara turun-temurun, tetapi bagaimana orang mengartikan dan memberi pandangan terhadap karakteristik kelompok ras tertentu.

Selama ini diakui paling tidak terdapat tiga macam ras besar di dunia ini. yaitu Kaukasoid, Mongoloid, dan Negroid. Ras Kaukasoid ditandai oleh kulit putih dengan rambut yang lurus atau bergelombang. Lalu ras Mongoloid ditandai oleh kulit kuning dan cokelat dengan mata yang sipit. Dan ras Negroid ditandai oleh kulit hitam dengan rambut yang keriting. Selain itu, terdapat berbagai macam ras yang memiliki ciri-ciri sangat beragam.

Mereka yang termasuk jenis ras Kaukasoid, misalnya ras Anglo Saxon Ras Anglo Saxon merupakan ras kulit putih Eropa, terutama di Inggris, Irlandia, dan Amerika Serikat Mereka secara tegas membedakan dirinya dengan ras Negroid kulit hitam keturunan Afrika. Di Asia kita temukan banyak ras Mongoloid, termasuk ras orang kulit cokelat di Indonesia. Ras Negroid banyak kita temukan di Benua Afrika.

Pembedaan masyarakat menurut ras ini penting sebagai pengetahuan untuk memahami karakter masyarakat majemuk berkaitan dengan masalah prasangka dan diskriminasi rasial. Pra sangka rasial adalah sikap berprasangka pada kelompok lain yang didasarkan pada pandangan khusus yang diberikan masyarakat kepada sekelompok warna kulit tertentu, tanpa melihat kenyataan yang sebenarnya. Sebelum memiliki prasangka kelompok pada umumnya terlebih dulu orang memiliki apa yang disebut stereotip terhadap kelompok tersebut. Stereotipe adalah pikiran berprasangka yang didasarkan pada kesan umum yang dipercaya tentang sifat-sifat dan karakter suatu kelompok ras tertentu.

Baca juga: Prinsip Ekonomi: Pengertian, Manfaat dan Contoh Penerapannya

Prasangka dan stereotip seringkali menuntun perilaku orang untuk bersikap diskriminatif terhadap ras lain yang didasarkan pada keanggotaan orang tersebut dalam kelompok ras tertentu. Perilaku diskriminatif ini seringkali menimbulkan ketidakadilan di dalam masyarakat sehingga cenderung menimbulkan keresahan sosial. Salah satu perilaku diskriminatif yang terkenal, misalnya politik apartheid di Afrika Selatan. Politik apartheid berlaku sebelum Nelson Mandela, pemimpin kulit hitam di Afrika meraih kekuasaan. Sebelumnya, orang kulit putih minoritas telah memegang kekuasaan bertahun-tahun dan membatasi secara hukum hak politik warga negara kulit hitam di Afrika Selatan.

2. Perbedaan Etnisitas (Etnis)

Jika ras berkaitan dengan ciri-ciri fisik tubuh, etnisitas lebih menunjuk pada karakteristik budaya suatu kelompok tertentu. Karakteristik budaya ini dibentuk dan dihasilkan oleh perbedaan bahasa, agama, suku bangsa, kedaerahan, dan tempat lahir.

Menurut Robertson (1977). Kelompok etnik adalah sejumlah besar orang yang memandang diri dan dipandang oleh kelompok lain, memiliki kesatuan budaya yang berbeda. Hal itu terjadi akibat dari sifat-sifat budaya bersama dan interaksi timbal balik yang terus menerus. Dalam pengertian etnisitas ini yang penting adalah anggota kelompok etnis tersebut memiliki perasaan dan identitas yang sama berdasar asal usul, bahasa, agama, tradisi, dan pengalaman hidup. Mereka membedakan dirinya dengan kelompok lain berdasarkan ciri-ciri budaya khas yang mereka miliki.

Banyak kelompok suku di Indonesia dipandang berbeda satu sama lain secara ras dan etnis, misalnya antara orang Jawa dengan orang Irian Jaya dan orang Maluku. Mereka dibedakan secara ganda, atas dasar ras dan etnis. Akan tetapi ada juga kelompok yang dibedakan hanya atas dasar etnis saja, misalnya antara orang Batak dengan orang Bali dan orang Jawa. Mereka dibedakan atas dasar bahasa, sub-kebudayaan, dan agama yang mereka anut. Pada umumnya, orang Secara sepintas memandang mereka memiliki tradisi’ pandangan hidup, dan sub-budaya yang berbeda satu sama lain.

Pemahaman konsep etnisitas penting untuk menjelaskan dinamika masyarakat majemuk, melalui sikap etnosentrisme. Sikap etnosentrisme adalah sikap orang yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandang sebagai tolok ukur untuk menilai kelompok lain.

Kelompok orang cenderung memandang nilai dan cara hidup kelompoknya adalah yang paling baik. Mereka cenderung memandang kelompok lain kurang baik dan tidak bernilai. Gejala tersebut merupakan gejala sosiologis yang umum. Secara sosiologis, sikap etnosentrisme dapat mempererat solidaritas kelompok etnik tertentu. Namun, di lain pihak etnosentrisme dapat menimbulkan keresahan sosial di pihak kelompok lain.

Baca juga: Tindakan Ekonomi: Pengertian, Ciri-Ciri dan Contohnya

Sikap etnosentrisme ini seringkali menimbulkan perilaku tidak adil dalam memperlakukan kelompok lain, terutama kelompok minoritas. Biasanya sikap etnosentrisme cenderung menimbulkan keresahan dan konflik di dalam masyarakat. Salah satu contoh yang sangat terkenal adalah perilaku pembunuhan dan peperangan antar etnis di Yugoslavia, yaitu antara suku bangsa Bosnia dan Serbia. Mereka berperang untuk mempertahankan etnis dan identitas masing-masing.

Perbedaan anggota masyarakat atas dasar ras dan etnisitas dan pengaruhnya terhadap dinamika masyarakat. Seperti yang telah dikemukakan, merupakan persoalan yang sangat penting untuk mempelajari sistem sosial masyarakat Indonesia. Prasangka dan diskriminasi rasial yang cenderung berkembang di masyarakat majemuk dapat mengancam integrasi nasional masyarakat majemuk. Demikian pula kecenderungan berkembangnya sikap etnosentrisme seringkali mengganggu kestabilan masyarakat majemuk. Konsep masyarakat majemuk ini merupakan pengetahuan penting untuk mempelajari masyarakat Indonesia, karena hal itu cocok dengan kenyataan sosial masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya keanekaragaman budaya yang bersumber dari perbedaan suku bangsa, ras, dan agama yang sangat beragam.

Nah itulah mengenai pengertian masyarakat majemuk dan unsur-unsur penting yang membentuk kemajemukan masyarakat. Semoga apa yang sudah di sampaikan diatas bisa bermanfaat dan bisa menambah wawasan mengenai kemajemukan masyarakat terutama di Indonesia.

Leave a Reply